Archive for June, 2013


Bijak pandai Islam zaman dulu yang ‘haramkan’ kopi, Yahudi pulak yang kena maki oleh orang Islam zaman sekarang.

Throughout the first few centuries of its history in the Islamic world, coffee’s popularity engendered great controversy. Many were suspicious of the effects of caffeine and the gatherings in which it was consumed — they seemed debauched to some and subversive to others. Coffeehouses competed with mosques for attendance, and as unsupervised gathering places for wits and learned men, provided spawning grounds for sedition. The wags of Istanbul jokingly called the coffeehouses mekteb-i ‘irfan, “schools of knowledge.” Efforts were launched, and persisted for at least a hundred years, to declare coffee an intoxicant forbidden by Islamic law. –Sumber

Coffee — The Wine of Islam

Most modern coffee-drinkers are probably unaware of coffee’s heritage in the Sufi orders of Southern Arabia. Members of the Shadhiliyya order are said to have spread coffee-drinking throughout the Islamic world sometime between the 13th and 15th centuries CE. A Shadhiliyya shaikh was introduced to coffee-drinking in Ethiopia, where the native highland bush, its fruit and the beverage made from it were known as bun. It is possible, though uncertain, that this Sufi was Abu’l Hasan ‘Ali ibn Umar, who resided for a time at the court of Sadaddin II, a sultan of Southern Ethiopia. ‘Ali ibn Umar subsequently returned to the Yemen with the knowledge that the berries were not only edible, but promoted wakefulness. To this day the shaikh is regarded as the patron saint of coffee-growers, coffee-house proprietors and coffee-drinkers, and in Algeria coffee is sometimes called shadhiliyye in his honor. Continue reading

Tuesday, 1 May 2012 | Ketua Urusan Ulama Hulu Langat

Sidang pembaca yang dirahmati Allah

Pasti ada yang terkejut beruk,merah muka menahan marah,mengetap bibir dan lain-lain apabila membaca tajuk di atas.Mana tidaknya ,selama hidup tidak pernah ada orang yang memperlekehkan gerakan dakwah Tabligh sebegitu rupa.Apatah lagi menyamakan Tabligh dengan kelompok sesat yang bernama Khawarij.

Sabar dulu….jangan cepat melenting.sila baca kajian yang telah di buat oleh seorang pengkaji yang khusus dalam bidang tersebut.Di bawah adalah tulisan beliau yang meminta kita semua untuk meneliti dan memahami ciri-ciri Khawarij ini yang telah bertukar corak kepada corak gaya baru (moden).Rasul saw bersabda:
يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ
لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ
“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

Dan yang dimaksud dengan “tidak sampai ke tenggorokannya” adalah memahaminya dengan pemahaman yang tidak benar. Ia mengira bahwa itu adalah dalil yang menguatkan alasannya, namun sebenarnya tidak demikian, sangat dangkalnya pemahaman mereka, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat lain,
Bahkan merekapun membawakan hadis-hadis Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, namun dipahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi,

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ
“Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)
Continue reading

October 17th, 2012 /pemudamuslim.com

Sebagian besar masyarakat di sekitar kita yang belum memahami agama secara baik memandang bahwasanya seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa seperti bisa berjalan di atas air, terbang di udara, bertapa di goa selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan, minum, dan tidur, adalah para wali Allāh subḥānahu wa ta’ālā. Meskipun jika ditelusuri, ternyata orang yang punya kemampuan luar biasa tersebut tidaklah mengerjakan shālat lima waktu, tidak berpuasa Ramaḍān, dan lain-lain. Asal sudah bisa terbang dan pakai gamis, sudah dianggap termasuk wali. Benarkah demikian? Siapakah wali Allāh yang sesungguhnya?

Siapakah Wali Allāh?

Wali Allāh adalah orang-orang yang dekat dengan Allāh subḥānahu wa ta’ālā dan dicintai oleh Allāh. Mereka dinamakan ‘wali Allāh’ karena memiliki kedekatan khusus kepada Allāh dan karena Allāh mencintai mereka. Allāh ta’ālā berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ketahuilah bahwasanya wali-wali Allāh tidak memiliki rasa takut dan tidak bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa”

(QS. Yunus : 62-63)

Perhatikanlah ayat di atas. Allāh subḥānahu wa ta’ālā menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wali Allāh adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, bukan orang yang bisa terbang atau bisa berjalan di atas air. Maka, wali Allāh adalah orang yang memiliki dua sifat berikut: “iman dan takwa”.

Barangsiapa mengaku dirinya adalah wali Allāh, atau dianggap oleh masyarakat sebagai wali Allāh, padahal dia tidak beriman dan tidak pula bertakwa, dia bukanlah wali Allāh, melainkan seorang pendusta.

Pandangan Ahlus Sunnah Terhadap Wali Allāh

Al Imam Abu Ja’far Aṭ Ṭahawi raḥimahullāh memaparkan pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap wali Allāh sebagai berikut,

وَلَا نُفَضِّلُ أَحَدًا مِنَ الْأَوْلِيَاءِ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ أفضل من جميع الأولياء

“Kami tidaklah melebihkan seorang walipun di atas kedudukan para nabi ‘alaihimus salaam. Dan kami mengatakan : ‘Seorang nabi lebih utama daripada seluruh wali’”

Continue reading

Insiden Sholat Jum’at, Khotib Diturunkan Paksa Jamaah
Diposting Minggu, 16-12-2012 | 17:56:15 WIB

TAIF, muslimdaily.net – Sebuah keributan terjadi saat khotbah Jum’at 14/12 diadakan kemarin di sebuah masjid di kota Taif, Arab Saudi barat.

Insiden terjadi saat seorang khotib Sheikh Rashid bin Al Shahri Mufrih sedang ceramah, tiba-tiba seorang jamaah pria warga negara Afghanistan berusaha menurunkan paksa khotib.

Jum’at 14/12, Sheikh Rashid sedang berceramah tentang bahaya narkoba dan minuman keras serta efek negatifnya terhadap anak muda. Tiba-tiba ada jamaah pria asal Afghanistan berdiri, kemudian menghampiri mimbar khotbah dan menarik Sheikh Rashid. Pria tak dikenal ini memaksa khotib membatalkan khotbah.

Seperti dilansir Gulf News, para jamaah lain terkejut dan bergegas mengerubungi pria Afghanistan itu lalu membawanya ke sebuah kamar dan menguncinya dari luar. Polisi kemudian datang dan membawa pria Afghan itu ke kantor polisi terdekat.

Continue reading